Home > News > Penjualan Voucher Hotel Saat Pandemi, Ini Pendapat Asosiasi Perhotelan di Bali dan Yogyakarta

Penjualan Voucher Hotel Saat Pandemi, Ini Pendapat Asosiasi Perhotelan di Bali dan Yogyakarta



28, August 2020

Beberapa bulan belakangan, sejumlah hotel di Indonesia sudah mulai beroperasi kembali setelah adanya pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Guna memulai kembali arus kas yang sempat terhenti lantaran operasional harus dihentikan, beberapa hotel menjual voucer menginap dengan periode fleksibel. Lantas, bagaimana pandangan asosiasi perhotelan di Bali dan Yogyakarta terhadap penjualan voucer menginap di hotel dengan periode yang fleksibel? “(Penjualan voucer menginap di hotel) cukup lumayan. 30 persen telah laku, dan ada yang memberikan periode menginap sampai Desember 2021,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) BPD DIY Yogyakarta Deddy Pranowo saat dihubungi Kompas.com, Rabu (19/8/2020).

Senada dengan Deddy, Wakil Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Bali I Made Ramia Adnyana menuturkan hal yang sama. Penjualan voucer menginap di hotel area Kuta dan Nusa Dua lebih banyak dibandingkan area lain. Penjualan voucer mencapai 30 persen. “Di luar area itu kurang laku, kurang dari 30 persen. Mayoritas periode menginap sampai 20 Desember 2021,” ujar Made kepada Kompas.com, Jumat (21/8/2020).

Untuk periode menginap, sebanyak 70 persen voucer menginap di hotel Yogyakarta sudah dipakai untuk tahun 2020. Sementara di Bali, Made mengungkapkan bahwa voucer menginap lebih banyak akan dipakai untuk tahun depan. Namun, ada juga yang sudah dan akan dipakai tahun ini. “Untuk tahun ini pada hari biasa. Kemungkinan untuk kerja dari hotel,” kata Made. Banyak diminati wisatawan luar daerah Deddy mengatakan, 80 persen pembelian voucer menginap di hotel-hotel Yogyakarta dilakukan para tamu dari luar daerah. Sementara itu, untuk voucer menginap di Bali, Made menuturkan bahwa penjualan lebih banyak diborong masyarakat dari Jakarta. “Dari Jakarta kebanyakan yang laku dari government, corporate, asosiasi. (Selain Jakarta) ada Surabaya, Bandung, dan beberapa kota lain, seperti Medan dan Makassar,” imbuh dia. Efektif untuk menutupi biaya operasional Penjualan voucer menginap dengan periode yang fleksibel, menurut Made, dirasa efektif karena hotel mendapat pemasukan untuk biaya operasional. “Bisa menutupi biaya pengeluaran, sehingga bisa dipakai untuk operasional. Ada yang mungkin tidak terlalu laku, tetapi tetap bisa membantu setengahnya,” kata Made.

 

Sementara itu, Deddy mengatakan bahwa meski penjualan voucer merupakan langkah yang tepat untuk mengurangi kerugian selama efektif, upaya itu dirasa belum terlalu efektif dalam menutupi biaya operasional.